Berbagai hal tak terduga sering terjadi saat kita sedang melakukan perjalanan. Impresi terhadap sebuah kota pun seringkali terbentuk dari pengalaman pribadi kita selama berada di kota tersebut. Tak melulu tentang hal- hal yang kasat mata; tentang keindahan kotanya, atau bangunannya. Ada banyak faktor lainnya, sebagian besar melibatkan perasaan.

Vieux Lyon- bagian kota tua Lyon
Vieux Lyon- bagian kota tua Lyon

Memori saya tentang Lyon dimulai pada hari terakhir di 2016. Saya dan Mariyam tiba sekitar jam 10 malam setelah bus kami dari Jenewa tertunda sekitar dua jam. Dingin, lelah, lapar, harus memanggul carrier lewat jalanan pesing, gelap dan sepi. Musnah sudah hasrat untuk melihat pesta tahun baru. Malam itu kami sudahi dengan makan kebab (hasil membeli dengan bahasa isyarat) dan tidur nyenyak. Bye- bye kembang api.

Esoknya, kami keluar hostel cukup awal dan keramaian sudah terlihat di sana sini. Segera kami menuju Vieux-Lyon, alias kota tua Lyon, dimana sebagian besar tourist attraction berada. Beberapa bagian kota sudah ramai. Orang- orang juga tak tampak lelah selesai berpesta tahun baru semalam.

Vieux Lyon - bagian kota tua Lyon
Vieux Lyon – bagian kota tua Lyon

Kunjungan ke Lyon kali itu memang singkat karena hanya mampir sebelum menuju highlight kedua winter break kami, yaitu Italia. Yippie.. Singkat cerita, keesokan harinya kami tiba di bandara St. Antoine du Exupery untuk bertolak ke Roma. Tapi, satu hal yang merubah total rencana kami terjadi pagi itu: Mariyam ditolak boarding karena dokumennya dianggap bermasalah.

Jangan tanya bagaimana perasaan kami. Sakit hati. Kami coba jelaskan baik- baik situasi Mariyam beserta dokumen pendukung dari Kantor Imigrasi Belanda (IND) yang menurut kami legit. Tapi ditolak mentah- mentah oleh bapak petugas, sebelum akhirnya dioper kesana dan kemari tanpa ada kejelasan solusi. Akhirnya kami menyerah setelah lelah beradu pendapat. Rasanya saat itu emosi mendidih. Benci, aku benci Lyon!

Setelah insiden Mariyam, kami segera merubah rencana. Life goes on. Tiket bus sudah kami pesan untuk jam 3 keesokan paginya. Karena masih punya waktu cukup panjang, kami pun kembali ke kota dan jalan-jalan tanpa rencana- spontan dan random. Saat di metro tiba2 terbersit ide untuk ke Grand Mosquee Lyon karena kemarinnya kami tidak sempat kesana. So, this might be the bright side of the incident 🙂

Saat akan beranjak pergi kami bertemu seorang wanita Prancis keturunan Aljazair dan mendapat beberapa info. Salah satunya tentang sebuah restoran French food halal bernama La Belle Colembe. Hmm, sungguh menggoda bisa makan ala Prancis, halal pula. Apalagi Lyon juga menyandang status sebagai ‘French capital of gastronomy’. Tingkat keceriaan kami meningkat dua ratus lima puluh persen terbayang makanan enak.

Sorenya kami segera menuju restoran dengan semangat empat lima, siap melahap apa yang di depan mata. Setelah pusing- pusing beberapa kali, ketemu juga restorannya. Dan ternyata TUTUP, sodara2! Hahaha. Duh, ini sekarang bisa ketawa, tapi dulu asli bete parah. Gagal maning gagal maning. Yasudahlah, ke rak Carrefour kami kembali.

Setelah capek putar- putar kota, hampir tengah malam kami kembali ke stasiun Lyon- Gare Part Dieu dengan backpack masih dititip di loker. Tapi, tak lama kemudian beberapa petugas stasiun menyuruh kami keluar (ada beberapa traveler lainnya) karena stasiun akan tutup sekitar jam 00.30. Bete lagi. Haha.

Kami pun sigap untuk mengambil barang di loker. Tapi, ternyata.. jeng jeng..lokernya TUTUP dong! Loker baru buka lagi jam 06.15! Yhaa, padahal bus kami berangkat jam 3 pagi. Artinya kami harus menunggu di luar stasiun di udara minus, dan berita terburuknya tak bisa pergi dengan bus jam 3 pagi! Hahaha. Duh, ini sambil nulis ketawa lagi, padahal asli dulu bete banget. Ini murni keteledoran kami sih, entah dapat ide dan asumsi darimana kalau stasiun dan loker buka 24 jam, memang Indomaret. Haha.

Singkat cerita kami berhasil melalui jam- jam nahas ketika badan menggigil kedinginan, kaki kebas dan kaku, dan terpaksa harus jalan mondar-mandir dan menari- nari agar badan lebih hangat. Jam 5 pagi tram terpagi mulai beroperasi, kami segera meloncat kedalam demi menghangatkan diri dan TIDUR! Ada kali kami ikut mondar- mandir tram hampir satu jam. Cerdas kan, haha.

Again, we tried to embrace and cherish the situation. Kami memesan tiket bus jam 3 sore, artinya masih punya beberapa jam. Badan sudah loyo, muka kayakya sudah kumal dan kucel, baju mungkin udah bau iler. Hahaha. Bodo amat. Waktu itu kami sudah nggak ada nafsu untuk apa- apa. Cuma pengen makan dan tidur.

La Belle Colembe, Lyon menyediakan halal French food
La Belle Colembe, Lyon menyediakan halal French food

Jadi, jam makan siang kami memutuskan kembali ke La Belle Colembe. Singkat cerita, pengalaman makan di sana sungguh sesuai ekspektasi. Ya makanannya (mungkin karena kami sedang kelaparan kali ya), ya mbak nya yang sungguh ramah dan mau menjelaskan menu satu per satu pada kami yang dongo soal makanan Prancis. So, again this was probably another bright side after the second incident.

Tapi, satu hal yang paling mengesankan justru tidak datang dari makanan yang kami santap.

Jadi saat sedang makan, tak sengaja saya bertatap mata dengan seorang nenek berwajah bule yang kemudian tersenyum dan melambaikan tangan kepada kami. Sepertinya si nenek merupakan pelanggan di restoran ini, karena saat masuk ia sempat beramah tamah dengan pelayan restoran.

Beberapa saat kemudian, saat sudah selesai makan dan akan beranjak pulang, tanpa diduga sang nenek berjalan pelan menghampiri dan memeluk kami lalu cuppp.. mendaratkan ciuman hangat di pipi kanan dan kiri.

Saya masih terkejut dengan kejadian super spontan dan tak biasa ini, apalagi saat nenek berkata-kata dalam bahasa Prancis (yang tak tentunya tak kami mengerti) dan hanya terbalas dengan senyuman termanis kami. Hanya ada satu kata sempat kami tangkap, dan di telinga kami terdengar seperti “family”. Sehingga, selama lima menit berikutnya saya dan Mariyam setuju memutuskan bahwa terjemahan bebas rentetan kata si nenek tadi adalah “we are family”. Haha.

Entah kenapa si nenek memilih mendatangi kami diantara banyak pengunjung yg lain karena. Mungkin keimutan kami mengingatkan pada cucu si nenek? Atau karena si nenek muslim dan senang melihat sesama muslim dari jauh? Entah. Yg pasti saya terharu, kembali mendapat sambutan super hangat dari warga lokal.

Katanya, everything happens for a reason. Mungkin, dibalik beberapa kejadian “buruk” sejak beberapa hari terakhir, ada lebih banyak kejadian baik yang menghampiri kami. Mungkin Lyon ingin kami merevisi impresi kami terhadapnya.

Mungkin ia ingin kami tinggal sedikit lebih lama, mungkin ia ingin memperlihatkan warna aslinya. Sebuah gestur sederhana dari seorang warganya yang mengubah cara pandang kami, bukan hanya terhadap Lyon tapi juga pada dunia- yang banyak orang bilang panggung sandiwara dan kejam. Hal kecil yang jika terus ada bisa membuat hidup jadi lebih indah : ketulusan, tanpa prasangka. Jadi, dibalik setiap memori indah kami di Lyon, mungkin kecup manis dari nenek lah yang menjadi memori terindah kami. Dan tentunya, the brightest side of every unfortunate event we had in Lyon :))

 

2 thoughts on “Lyon: Kecup manis nenek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s